Punya Anak Generasi Alpha? Begini Cara Terbaik Mengasuhnya

Setiap generasi lahir dengan kekhasan dan tantangan tersendiri. Setelah generasi Milenial dan generasi Z, kini muncul generasi Alpha, yaitu mereka yang lahir di antara tahun 2010-2025. Beda dengan generasi sebelumnya, anak-anak generasi Alpha lahir di tengah era keterbukaan informasi dan pesatnya kemajuan teknologi. Bagaimana cara mengasuh anak generasi Alpha sesuai dengan potensi yang dimiliki dan perkembangan dunia saat ini?

Karakteristik Generasi AlphaIstilah generasi Alpha dicetuskan oleh Mark McCrindle, sosiolog asal Australia. Menurut Mc Crindle, generasi Alpha adalah anak-anak dari orangtua yang merupakan generasi Milenial. Jika generasi Z yang lahir pada tahun 1995-2010 digelari sebagai generasi digital native atau i-generation—karena lahir pada era kemunculan internet, generasi Alpha memiliki daya adaptasi, kemampuan, dan kebutuhan terhadap internet yang lebih tinggi lagi dibandingkan pendahulunya. 

Sejak lahir, generasi Alpha sudah terbiasa menggunakan gadget dan internet sebagai media untuk mencari hiburan, informasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Itu sebabnya generasi Alpha amat cepat menangkap informasi dari berbagai arah.

Era keterbukaan informasi juga akan meniadakan kendala jarak dan waktu bagi generasi Alpha. Mereka bisa mengakses aneka informasi yang diinginkan, kapan saja dikehendaki. Itu sebabnya generasi Alpha diperkirakan akan memiliki kemampuan berpikir cepat, problem solving, dan multitasking yang lebih baik dibandingkan generasi terdahulu.

Pola Pengasuhan Sesuai PotensiKemudahan generasi Alpha dalam mengakses dan menyebar informasi perlu diimbangi oleh bimbingan yang cukup dari orang tua, Moms. Sejak kecil, mereka perlu dibekali keterampilan untuk memilah informasi yang benar dan yang keliru, serta mana informasi yang layak disebarluaskan dan mana yang tidak. Tanpa bekal ini, era keterbukaan informasi amat berisiko menjadi senjata makan tuan.

Selain itu, rentang perhatian yang pendek—karena terbiasa berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya, di satu sisi bisa meningkatkan kemampuan multitasking anak-anak generasi Alpha. Tapi di sisi lain, rentang perhatian pendek juga bisa membuat mereka mudah bosan ketika melakukan sesuatu. Orang tua bisa mengatasinya dengan membiasakan si kecil membaca buku atau mendengarkan musik yang durasinya cukup lama. 

Karena lebih sering bergaul di dunia maya, anak Alpha juga berisiko kehilangan kesempatan untuk mengasah keterampilan berinteraksi di dunia nyata. Itu sebabnya orang tua perlu menyediakan lebih banyak waktu untuk melatih kemampuan sosialisasi anak. Bisa dengan mendaftarkan ke kelas olahraga (sambil sekaligus melatih kemampuan fisiknya), mengajak ke acara keluarga, dan lain-lain.

Peluang Merangkap Tantangan di Masa DepanPuluhan tahun ke depan, era keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi akan membuka banyak kesempatan bagi generasi Alpha untuk melakukan banyak hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Misalnya, jika saat ini teknologi kloning masih menjadi barang langka dan kontroversial, barangkali tidak demikian halnya ketika anak Alpha dewasa dan memegang kendali atas dunia.

Seiring munculnya banyak penemuan baru, aneka jenis profesi dan peluang usaha baru juga akan terbuka di masa depan. Singkatnya, dibanding kita, anak-anak generasi Alpha akan memiliki jauh lebih banyak peluang untuk melakukan banyak hal di masa depan. Meski kelihatannya menjanjikan, Moms tak boleh lengah karena peluang ini juga sekaligus merupakan tantangan generasi Alpha. 

Dalam banyak hal, kemajuan teknologi diperkirakan akan bersinggungan dengan isu etika. Contohnya adalah teknologi kloning, rekayasa organ tubuh, dan artificial intelligence yang saat ini berkembang pesat. Menghadapi kondisi demikian, anak perlu dibekali kemampuan untuk menempatkan hal-hal yang selayaknya menjadi prioritas agar ia tidak terombang-ambing di tengah perkembangan zaman. Salah satunya, tanamkan pada si kecil untuk menempatkan kemanusiaan dan kelestarian alam pada urutan teratas. Setuju, Moms?