INSPIRING MOMS
OF THE MONTH

Sosok inspiring moms of the month
Tunggu sosok Mom of The Month Berikutnya

Ani Ema Susanti

Pendidikan Sebagai Sarana Meningkatkan Taraf Kehidupan


Segelas infused water diangkat dari meja saat perempuan yang sangat inspiratif itu mencoba menjeda percakapan. Satu seruput air, lalu perempuan itu melanjutkan cerita mengenai perjalanan hidupnya yang sempat menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri hingga kini menjadi seorang sineas yang khusus menyoroti masalah tenaga kerja, perempuan, dan anak-anak.

Di sebuah kafe di bilangan Pasar Minggu, Ani Ema Susanti, begitu nama lengkap Inspiring Moms kali ini, bertutur dengan jelas bagaimana caranya menjadikan pendidikan sebagai sarana meningkatkan taraf hidup sesama pekerja wanita di luar negeri.

Sertifikat tanah dan rumah yang tergadaikan melekat di ingatan Ani saat dia mengisahkan ulang cara orang tuanya membiayai kehidupan keluarga dan pendidikannya. Alih-alih melanjutkan pendidikan selesai SMA, dia pun memutuskan mengikuti jalan yang banyak ditempuh perempuan seusianya di kampung halaman dengan menjadi TKW di luar negeri.

“Dari tahun 2001 sampai tahun 2003, saya menjadi TKW di Hongkong,” ujar Ani yang terlihat mengingat-ingat pengalamannya. Dengan berbekal ID Card yang dia gunakan untuk memiliki akses ke internet di perpustakaan umum Hongkong, dia mencoba tetap menjalin hubungan dengan teman-temannya di Indonesia. Cerita teman-teman Ani yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah memacu semangatnya untuk kembali mengenyam pendidikan formal.

“Tidak ada yang kebetulan yang terjadi di hidup ini,” ucapnya saat menceritakan bagaimana beruntungnya dia bertemu tuan rumah tempatnya bekerja. Keluarga pemilik rumah itu berprofesi di bidang pendidikan. Keluarga yang memiliki semangat akademisi, kurang lebih begitu Ani mendeskripsikan keluarga yang mempekerjakannya.

“Mereka mendukung saya untuk kuliah sepulang dari Hongkong,” terang Ani. Maka sesampai di tanah air, Ani memutuskan mengambil jurusan Psikologi di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya di tahun 2003.

Di masa kelulusan kuliahnya, Ani membuat proposal film dari catatan hariannya selama di Hongkong. Film itu diikutsertakan di Eagle Awards Documentary Competition pada tahun 2007. Tema yang diangkat oleh Ani waktu itu mengenai bagaimana memutuskan rantai kemiskinan dengan cara yang bisa dilakukan semua orang, yaitu pendidikan. Ani mengangkat kisah hidupnya dari menjadi TKW hingga memutuskan kuliah dan menyelesaikan pendidikannya itu.

Tahun 2007, film itu rilis di Metro TV dan mendapat banyak respon positif. Berkat tulisan salah satu kontributor majalah di Hongkong, film itu membuat bermunculan kursus-kursus untuk tenaga kerja asing yang bekerja di Hongkong. Kursus-kursus dan kelas professional untuk pekerja di kampus marak dibuka dan penggeraknya adalah orang-orang Indonesia.

Sejak saat itu, Ani menjelaskan lebih lanjut, teman-teman pekerja di Hongkong bisa pulang membawa gelar sarjana sepulangnya dari sana. Jurusan yang dibuka di sana rata-rata mengenai ekonomi dan kewirausahaan.

Masih pada tahun 2007, buku karya Ani yang berjudul “Once Upon a Time” diterbitkan hampir bersamaan saat roadshow film “Helper Hongkong Ngampus”. Pada saat yang bersamaan, Ani juga menjadi asisten dosen jurusan psikologi selama dua tahun. Pada saat kuliah dan mulai menyusun proposal film, dia berpikir bahwa film bisa menjangkau lebih banyak orang dibandingkan sebuah buku. Efek lanjutan film yang disutradarainya itu membuat banyak orang tua di desanya memberikan izin anak-anak kuliah sambil bekerja di Hongkong.

Ani memutuskan tinggal di Jakarta pada tahun 2008 setelah menyutradarai film “Mengusahakan Cinta” bersama omnibus “Pertaruhan” yang di-shooting di Hongkong dan beberapa Negara Eropa.

“Dahsyat sekali efek film-film tersebut,” jelas Ani sambil menceritakan film ”Mengusahakan Cinta” yang pada tahun 2008 membuatnya diundang ke Hongkong Film Festival. Tema yang diusung masih sama dengan film sebelumnya, yaitu tema perempuan tetapi lebih detail mengenai pertanyaan apakah perempuan sudah menjadi diri sendiri dan memiliki otonomi terhadap dirinya sendiri.

Alasan Ani memilih film sebagai media penyampaian ide-idenya adalah karena cakupannya lebih luas dan dia bisa mengaplikasikan ilmu psikologi yang dipelajarinya di kuliah.

Mengenai membagi waktu dengan keluarga, Ani menjelaskan bahwa dia pernah dihadapkan pada pilihan antara karir dan keluarga. Saat itu dia berumur 28 tahun dan ingin memiliki anak setelah sempat mengalami keguguran. Akhirnya dia memilih keluarga dengan berhenti bekerja full time. Karena ekonomi bapak dan ibunya masih ditanggung olehnya, dia memilih menjadi freelancer agar bisa tetap menjaga keluarga kecilnya.

“Waktu itu anak saya di usia golden age (0 hingga 2 tahun) saat saya menjadi freelancer di sebuah TV swasta,” ujarnya. Hal itu membuatnya sering membawa anaknya ke tempatnya bekerja. Produser yang sering mempekerjakannya bahkan sudah hafal jika Ani sering bekerja sambil membawa anak. Hal ini dilakukannya agar tidak kehilangan momen golden age pada anaknya tersebut. Meski dia tegaskan bahwa dia tetap meihat situasi dan kondisi pekerjaannya dan menjaga profesionalitasnya.

Masalah pembagian waktu pengasuhan anak dengan suami, Ani cukup fleksibel dengan memberikan waktu anaknya bersama Ayahnya saat dia harus bepergian untuk urusan pekerjaan. Dia dan suami pun sepaham untuk mengajarkan anaknya untuk melalui proses dalam mendapatkan sesuatu. Seperti misalnya ketika anaknya ingin memiliki gadget yang sedang marak dimiliki anak seusianya, harus ada proses membantu pekerjaan rumah dan menabung untuk membelinya.

Contoh quality time bagi Ani dan keluarga adalah saat mereka menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan yang tidak perlu terlalu jauh dari rumah. Ani kemudian menceritakan soal perjalanannya mengajak anak-anak mencoba transportasi MRT beberapa pekan lalu.

Untuk perencanaan keluarga, Ani menceritakan bahwa persiapannya lebih banyak ke bertanya dan menjelajah internet untuk tahapan-tahapan kehidupan berkeluarga yang akan dihadapinya. Semisal, awal pernikahan, kehamilan, hingga pola pengasuhan anak sesuai dengan umurnya. Selain itu, pengalaman teman-teman di sekitarnya dan pengalaman Ibunya juga menjadi referensi yang penting baginya.


Kembali ke atas
  • SHARE THIS POST