Sahabat Inspirasi

Sahabat Inspirasi

Card image
Sukma Prawitasari

Hai Sahabat,
Saya Sukma.

Sedari awal, saya menyadari telah memiliki kecocokan dengan beberapa hal di sepanjang hidup saya.
Contohnya dalam aspek Psikologi, saya berjodoh dengan dunia Remaja ,Relationship, Parenting, Homeschooling, dan Pendidikan bagi generasi Z & Alpha.

Pada aspek passion, saya sangat semangat dalam berkebun sayur organik, menggali sisi herritage dan makanan lokal dari daerah yang saya datangi (dalam dan luar negeri), serta berbagi info tentang tips hemat dalam travelling beserta itinerary dan penginapan murah.
Terakhir, saya menyukai dunia dongeng dan lagu anak sebagai langkah dini untuk mencintai literasi dan penanaman habit yang baik.

Saat melahirkan pertama kali di 2009, saya paham bahwa diperlukan sebuah kesepakatan dengan suami, agar saya dapat menjalankan tugas baru saya sebagai IRT dan tetap dinamis dengan menjalankan semua passion yang saya sebutkan diatas. Salah satu kesepatan kami adalah untuk kembali merencanakan memiliki buah hati kedua di tahun 2013.

Bisa dibilang, langkah kecil saya saat itu adalah dengan membangun Fanspage Konsultasi Gratis untuk remaja. Konsultasi online saya buat dikarenakan remaja yang mayoritas merupakan generasi Z, lebih mudah terhubung di dunia sosial media.
Mereka ingin serba cepat, praktis, dan hemat waktu. Saya ingin menjadi bagian dari ‘sahabat’ yang siap mengakomodir aneka problem yang sedang mereka hadapi di sekolah, keluarga, pertemanan, dan aneka nilai yang sedang mereka pegang layaknya remaja.
Tidak jarang, Konsultasi online berlanjut ke konsultasi Gratis offline dan melibatkan anggota keluarga mereka untuk turut hadir dan terlibat dalam intervensi psikologi yang saya berikan.

Adapun berkebun organik, adalah upaya saya dalam menyajikan aneka sayuran sehat bagi keluarga, sekaligus melibatkan 2 putri saya untuk mengenal makanan yang mereka konsumsi. Sedari menanam bibitnya, menyirami, merawat, panen, dan memasaknya. Berkebun adalah salah satu sumber ikatan jasmani dan rohani di keluarga kami.

Saya sempat menjalani 6 tahun bekerja sebagai psikolog di SMA dan Universitas Swasta, dan fokus pada mata kuliah ‘Character Building’. Bisa dibilang itu tahun terberat, karena putri pertama saya memilih untuk belajar di rumah sejak usia 5-8 tahun. Saya dan suami bekerjasama menjadi tim homeshooling baginya. Tidak hanya mendampingi dia dalam mengenal aneka pengetahuan umum, namun juga membantu dia menemukan passion dan prestasi yang bisa dia jadikan keunikan dirinya.

Saat ini, adalah tahun ke 3 saya menjalani karir dengan lebih profesional/mandiri. Saya merasa lebih fleksibel dan bisa menchallenge diri saya ke aneka bidang dan hal yang baru. Semisal, saya bisa kursus bareng putri pertama saya di kelas Corel dan Photoshop. Saya juga bisa mendampingi anak kedua kami dalam mengasah kemampuan mendongeng. Saya bisa melahirkan 3 lagu anak dan memproses klip serta rekamannya bersama keluarga dan sahabat.
Saya berharap, kedua putri saya dapat melihat dunia wanita dengan lebih utuh melalui sosok terdekat mereka, yaitu saya (ibu mereka). Saya ingin mereka optimis menjalani setiap peran dan passion yang mereka inginkan, tanpa perlu khawatir bahwa ikatan pernikahan akan menjadi dinding pembatas yang mempersempit langkah di kemudian hari.
Pernikahan yang saya dan suami contohkan pada mereka, adalah lahirnya persahabatan baru. Layaknya memiliki persahabatan, maka akan semakin membuka banyak peluang, kolaborasi, dan support.